Desa Membangun Banua

Kemiri, Potensi yang belum di lirik

Madi, pengusaha kemiri di desa nalui Kecamatan Jaro Tabalong
Madi, pengusaha kemiri di desa nalui Kecamatan Jaro Tabalong

Kemiri,atau dalam bahasa Banjarnya lebih dikenal dengan nama kaminting ini merupakan tanaman yang bisa tumbuh dimana saja. Hampir di semua wilayah kabupaten Tabalong tanaman ini bisa tumbuh dengan baik. Mayoritas orang, khususnya kaum perempuan tahu apa itu kemiri. Kemiri merupakan salah satu bumbu dapur. Untuk masakan bersantan, khususnya masakan urang Banjar, hampir bisa dipastikan bumbunya pasti ada kemirinya.

Walaupun bisa tumbuh dimana saja,tidak semua orang menanam atau membudidayakan kemiri untuk di perjual belikan. Kemiri sudah mulai produksi saat berumur 4 tahunan. Biasanya, kemiri yang di tanam hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja. Bahkan, kemiri yang ada sekarang ini adalah peninggalan/yang ditanam oleh orang tuanya, kakek/neneknya atau pedatuannya. Sangat jarang orang membudidayakan tanaman ini seperti halnya tanaman karet. Mungkin karena dianggap nilai ekonomisnya masih rendah.

Di daerah kecamatan Upau dan kecamatan Jaro, tanaman ini tumbuh dengan subur. Rupanya, kemiri ini menyenangi daerah berpegunungan. Menurut keterangan warga di dua kecamatan tersebut, pohon kemiri banyak di tanam di pegunungan. Bahkan, mata pencaharian sampingan penduduk desa di dua daerah tersebut adalah menjual buah kemiri. Bisa dikatakan, daerah Upau dan Jaro merupakan penghasil kemiri terbanyak di kabupaten Tabalong.

Waktu ditemui Koran kontras, Madi (39) salah seorang warga desa Nalui kecamatan Jaro bercerita bahwa di desa mereka hanya ada tiga orang pengolah buah kemiri. Saya menekuni usaha ini kurang lebih sudah tiga tahun ujarnya mengawali cerita. Dalam seminggu saya bisa membeli kemiri sebanyak 1,5 sampai 2 ton kemiri. Harga perkilonya Rp.3000 sampai Rp.3500. ini tergantung dari saat buah sudah di panen ujarnya menambahkan. Saat buah awal-awal jatuh dan saat panen buah menjelang berakhir, biasanya kualitas buah kurang bagus, banyak yang kopong. Di awal-awal saya memulai usaha ini saya mengalami kerugian karena masih kurang memahami siklus ini. Karena kejadian ini saya menjadi paham dan mengerti bagaimana cara meminimalisirnya ujarnya menceritakan pengalamannya.

Panen buah kemiri tidak di petik, tetapi menunggu buahnya jatuh. kada suah pang ulun mandangar urang manaik buah kaminting mun mamanennya,pasti mahadang buahnya gugur haja ujarnya sambil takurihing ( tidak pernah saya mendengar kabar orang memanen buah kemiri dengan cara di panjat, pasti menunggu buahnya jatuh sendiri katanya sambil tersenyum Red).

Adapun proses pengolahan buah kemiri sampai terkelupas dan siap pakai melalui beberapa fase. Setelah di beli, buah kemiri direndam didalam drum selama 1 sampai dua hari. Waktu perendaman dilakukan juga dilakukan proses sortir. Buah kemiri yang mengapung di ambil,artinya buah tersebut tidak bagus/kopong. Setelah itu kemiri di rebus selama 4 sampai 5 jam. Kemiri tidak langsung di pecahkan,tetapi didiamkan selama 1 hari. kalau langsung dipecahkan, isi/daging buah kemiri akan pecah katanya menjelaskan. Pemecahan kulit buah masih dilakukan secara manual. Setelah dipecahkan,kemiri di oven secara sederhana. Bahan bakarnya adalah kulit kemiri. kulit kemiri itu tidak kita buang, tetapi dijadikan bahan bakar. Kalau pakai kayu, nanti menyala, kalau pakai kulit kemiri sangat jarang menyala, hanya membara dan mengeluarkan asap saja lanjutnya lagi. Proses akhir adalah pengovenan. Kemiri dikeringkan/di oven selama 24 jam. Kalau di jemur dibawah sinar matahari bisa

memakan waktu selama 3 atau 4 hari, apalagi kalau di musim penghujan, tambah lama lagi. Kalau tidak kering daging buah kemiri akan berjamur dan cepat rusak. Kalau di oven, keringnya sampai kedalam dan bila warnanya sudah kuning keemasan artinya pengeringan sudah sempurna dan daya tahannya bisa mencapai 3 sampai 4 bulan katanya menambahkan.

Untuk pemasaran, ia melanjutkan keterangan bahwa pembeli atau pengepul datang sendiri. Sudah menjadi langganan katanya lagi. Untuk harga jual buah kemiri yang siap pakai tersebut sebesar Rp. 16.000 perkilonya. Sedang harga eceran orang menjual di pasar Rp.20.000an perkilonya. lumayan lah untungnya katanya sambil tersenyum.

Untuk 1 kg buah kemiri di dapat berat daging buah kering sebesar 3,3 3,4 ons. Kecuali kemiri dari Malak (kaltim), 1 kg buah kemiri bisa didapat 4,3 4,4 ons daging buah keringnya. kemiri malak ukuran buahnya lebih besar dari kemiri kita disini ujarnya memberi alasan.

Tidak bisa dipungkiri, ditengah murahnya harga karet saat ini, kontribusi dari hasil yang didapat dari buah kemiri ini sangat membantu kondisi keuangan rumah tangga. Tidak menutup kemungkinan, buah kemiri dimasa mendatang akan menjadi komuditas ekonomi yang menguntungkan dan menjadi tanaman alternatif disela tanaman karet. Ini mungkin perlu kajian yang lebih mendalam lagi. (aboel. m)

Tambahkan Komentar

Klik di sini untuk berkomentar

Kategori