Pasar & Agrobisnis

Mengintip bisnis “pakaian bekas”

Foto-0050Ditengah keramaian pasar malam di Desa Kapar Kecamatan Murung Pudak atau biasa disebut masyarakat sebagai Pasar Tungging Kapar, tampak seorang lelaki setengah baya merapikan barang jualannya berupa pakaian bekas impor.

Pakaian bekas layak pakai ini berjejer rapi di rak gantung di dalam los kantin Pasar Kapar, Tampak beberapa pembeli mondar-mandir memilah-milih pakaian yang sesuai dengan selera mereka. “harinya cukup cerah, tapi pembeli tidak ramai, mungkin karena tanggal tua. Apalagi harga karet masih murah, penjualan mengalami penurunan yang cukup lumayan” ujar paman Samidi (54), sang pemilik barang mengawali ceritanya.

Menurut lelaki asal Barabai kabupaten Hulu Sungai Tengah ini, dia menjalankan usaha sebagai penjual pakaian impor bekas sudah belasan tahun, tidak sedikit  tempat atau pasar yang sudah didatanginya, Mulai dari pasar di daerah Muara Teweh, Ampah, Barabai, Tanjung dan Murung Pudak.

“dulu, saya bisa satu minggu sekali pulang kerumah, tiap hari mengejar pasar. Sekarang karena fisik sudah tidak mendukung, tidak bisa seperti dulu lagi”ujarnya lagi.

Ia menjelaskan bahwa barang yang dijualnya itu di dapat melalui pasokan  pedagang besar dari Batam yang dikirim lewat Samarinda. “untuk barang tertentu susah kita mendapatkannya, seperti pakaian dari kain flanel dan kain levi’s. kalaupun ada harganya lumayan mahal. Harga belinya saja sudah mencapai Rp. 75.000 per lembarnya. Tuturnya.

Dengan harga yang terus naik Samidi mengaku kebingungan untuk menjualnya kembali “Berapa kita mau jualnya. Disamping itu, kebiasaan orang mencari pakaian bekas ini untuk keperluan ke kebun atau sawah, ada juga untuk baju mancing, istilahnya gasan baju tilasan. Bukan untuk baju mejeng.” Imbuhnya.

Untuk menyiasati keinginan pasar Ia membeli barang yang laku terjual saja seperti  baju kaus lengan pendek, kaus lengan panjang, sweater, celana kain panjang baik jenis beludru atau kain biasa.

“harga perlembarnya, baju kaus lengan pendek Rp. 25.000, lengan Panjang Rp. 35.000, Sweater Rp. 50.000- 60.000, celana panjang Rp. 50.000- 65.000. tergantung jenis kainnya. Kalau ngambil lebih dari satu pasti kita beri potongan harga” ujarnya menceritakan harga barang yang dijualnya sambil mempromosikan dagangannya.

Samidi mendapatkan barang dagangannya dengan  membeli perkarung dari pedagang besar di ibukota propinsi , satu karung pakaian bekas dimasukan dalam karung berat 50 kg dengan harga yang bervariasi. Mulai dari Rp. 3,5 juta sampai Rp. 5,5 juta. Tergantung jenis dan kualitas barang.

“celana pendek perkarungnya Rp. 3,5 juta. Jumlah per karung bisa lebih dari seratus potong, bisa juga kurang dari seratus potong. Tergantung tebal tipisnya kain. Misalnya untuk jenis levi’s, biasanya kurang dari seratus” ungkap Samidi.

Menurut pengalamannya , tidak semua pakaian yang dibeli itu bisa dijual. Untuk setiap karung pasti ada yang tidak layak jual. Bisa karena robek, ataupun karena kainnya terlalu tipis.

“ kalau tidak ada yang rusak dalam satu karung, banyak banar tupang kita untung” ( banyak sekali kita mendapat untung –red) ujarnya sambil berseloroh.

pria paruh baya asal Barabai ini mengaku memerlukan tidak sedikit modal untuk berjualan pakaian bekas. “kalau seperti yang saya jual ini modalnya hampir Rp. 30 juta. Omset perminggunya kisaran Rp. 3 jutaan. Kalau sedang ramai seperti dulu bisa mencapai Rp. 5 jutaan” katanya perlahan.

Untungnya Samidi bisa menghemat pengeluaran transportasi ke pasar karena disamping membawa barang dagangannya sendiri Ia “nyambi” membawa pedagang lain dengan mobil pick up tuanya.

Pasar kapar semakin larut , Samidi pun mulai mengemasi barang dagangannya yang memiliki aroma khas tersebut kedalam karung, pengunjung pasarpun mulai terlihat sepi pasar kapar akan kembali senyap, Samidi pun  dengan pakaian impornya siap menuju pasar lain. (aboel misriwan)

Tambahkan Komentar

Klik di sini untuk berkomentar

Kategori