Fokus Kita

Jurnalis dan LSM Yang Menatap “graha sakata” (bag 1)

Dunia politik masih menarik oleh sebagian besar orang, terutama politik lima tahunan yang bermuara pada “kursi” di gedung wakil rakyat Mabu’un atau gedung DPRD ditempat lain

Tidak mengherankan bila datang masa pileg maka yang mengikutinya dari berbagai kalangan, bukan hanya para petahana yang kembali mencalonkan dirinya tapi juga pendatang baru.

Mereka bisa datang dari pengusaha yang notabene pendatang dengan banyak memiliki “amunisi”, terlihat spanduk pun terpasang di mana mana, ada juga kalangan pensiunan birokrasi, tidak ketinggalan ketua ketua partai yang belum duduk sebagai anggota dewan.

Demikian juga kalangan yang selama ini pekerjaannya bersentuhan dengan semua kalangan seperti wartawan , pengacara dan penggiat LSM , banyak hal yang melatari mengapa mereka memilih terjun ke dunia yang “abu abu” itu.

AKHMAD RUSMADI (LSM)  mengatakan selama ini sudah cukup sering “berjuang” lewat jalur LSM dan menyampaikan aspirasi yang diterima dari warga masyarakat namun tidak mendapat “respek” dari wakil rakyat yang menjadi anggota dewan saat dengar pendapat.

“Banyak masukan yang di berikan tidak di respon dengan baik oleh anggota dewan . kami berharap dengan adanya anggota LSM yang duduk di parlemen, aspirasi masyarakat bisa di respon dengan cepat” tuturnya.

Pria berkacamata ini mengaku miris dan prihatin terhadap 30 anggota DPRD sekarang, karena hanya beberapa orang saja yang bisa bicara “agak lumayan” sementara mayoritas tidak bisa “berbicara”.

“jangan jadi anggota DPRD bisu, bisanya hanya duduk-duduk dan jalan-jalan saja”sambungnya lagi.

Ia juga mengkritisi kunjungan kerja keluar daerah anggota DPRD yang terbilang tinggi “katanya APBD defisit, namun kunjungan keluar daerah tinggi” ujarnya sambil geleng-geleng kepala.

Menurutnya, anggota dewan bukan kumpulan dari masyarakat biasa, namun kumpulan orang yang memiliki kompetensi yang diharapkan bisa memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Ia juga menegaskan bahwa menjadi anggota dewan harusnya menjadi beban amanah, bukan hanya mengharap gaji saja.

Rusmadi kembali mempertanyakan tentang seringnya anggota dewan melakukan kunjungan ke luar daerah hingga puluhan kali dalam setahun dan mempertanyakan hasilnya.

“apakah hanya sekedar memenuhi program saja ? dan saya tidak pernah dengar mereka (anggota dewan –red) melakukan ekspose”bebernya.

Minimal ada hak inisiatif dewan untuk melahirkan Raperda sambungnya lagi, selama ini usulan Raperda selalu dari pihak Eksekutif, anggota dewan hanya membahas saja.

Di sisi lain, pria berbadan langsing ini juga menilai bahwa sebuah kewajaran kalau ada anggota dewan petahana merasa khawatir terhadap para penantang baru khususnya dari kalangan LSM dan Jurnalis karena kedua penantang ini sudah lama “malang-melintang” .LSM dengan advokasinya dan rekan wartawan dengan tulisannya.

“ masyarakat bisa menilai, selama ini siapa sebenarnya yang lebih pro pada masyaarakat”sambungnya lagi.Ia juga menambahkan kalau kekhawatiran (angggota DPRD petahana –red) tersebut dikarenakan tidak bisa membuat bukti pekerjaannya.

Rusmadi dengan tegas menyatakan tidak akan melakukan money politik, cara politisi busuk untuk bisa terpilih.

“masyarakat sudah cerdas, hanya orang “buta” yang bisa di beli”ungkapnya.

Untuk  pileg 2019 ini ia meminta masyarakat untuk pintar memilih, jangan tergoda dengan segala iming-iming.

Sementara M. AL AMIN (Jurnalis) memiliki alasan sendirimengapa Ia mencalonkan diri sebagai caleg, “untuk menyuarakan aspirasi masyarakat kelas bawah” tandasnya.

Menurutnya, berjuang lewat media masih belum cukup,agar bisa maksimal perjuangan itu akan dilanjutkan lewat pintu Legislatif.

Ia menilai motto pemerintah daerah “membangun desa, menata kota” sudah bagus dan perlu di back up di tingkat parlemen sehingga rencana tersebut bisa berjalan sebagaimana  mestinya.

Berkenaan dengan anggota Legislatif  yang sekarang, Pria berpenampilan rapi ini menilai bahwa kegiatan dewan sekarang sangat jarang ter ekpose media, khususnya saat kunjungan ke luar daerah sehingga menimbulkan asumsi yang beredar di masyarakat bahwa anggota dewan hanya jalan-jalan saja, walaupun tidak demikian adanya.

“jadi jangan menyalahkan kalau masyarakat berasumsi demikian”tandasnya.

Seperti halnya Rusmadi, Ia juga  menegaskan tidak akan melakukan politik dagang sapi ini. “pesan orang tua saya, lebih baik tidak usah ikut nyaleg kalau pakai duit-duitan”ungkapnya.

Ia berharap agar Badan pengawas pemilu (Bawaslu) dengan “unit kerja” yang sampai ke pedesaan bisa lebih jeli lagi menyikapi permasalahan ini.

“kabarnya sudah ada caleg yang bagi sembako dan uang panjar”bebernya pula.

FIRMAN YUSI (LSM) penggiat LSM dengan “sejuta” aktivitas ini mengatakan alasan yang melatar belakangi untuk mencalonkan diri di tingkat provinsi  karena aktiftasnya yang sering bersentuhan dengan masyarakat dari berbagai kalangan membawa kesadaraan bahwa selama ini banyak aspirasi yang tidak terserap dan tersalurkan dengan baik lewat jalur yang tepat.

Ia melihat adanya beberapa kewenangan pemerintah daerah “ditarik”  dan di serahkan ke pemerintahan provinsi memerlukan perwakilan orang dari daerah yang mengerti dan memahami lokalitas daerah yang bersangkutan

Firman juga melihat hasil kunjungan kerja DPRD selama ini hampir tidak pernah dipublikasikan secara luas kepada masyarakat Tabalong.

Padahal ujarnya lagi publikasi sangat penting agar masyarakat bisa mengetahui apa yang sudah dilaksanakan.

“dari publikasi masyarakat juga bisa menilai mana anggota dewan yang bekerja dan mana yang tidak”bebernya lagi.

Ketika ditanya tentang politik uang dengan lantang Firman mengatakan kalau politik uang 100 % haram.“ yang menyuap dan yang di suap sama-sama salah”cetusnya.

Ia menyatakan dengan tegas tidak akan melakukan money politic dalam segala bentuk.

“lebih baik tidak duduk di parlemen dari pada main duit”pungkasnya.

Ia berharap agar ada sanksi penjeraan baik secara hukum maupun sanksi sosial bagi pelaku politik uang dan yang menerimanya. (bersambung)

Kategori