Fokus Kita

Kemarau, Petani Sadap Karet Malam Hari

sadapKemarau panjang yang melanda hampir diseluruh Indonesia dirasakan juga di Tabalong, bukan hanya kekeringan banyak juga dampak lain seperti kebakaran lahan, tidak bisa tanam padi bagi petani.

Tabalong yang mayoritas petani karet juga merasakan dampak langsung dari kemarau tahun ini seperti petani karet di desa Padang Panjang Kecamatan Tanta kabupaten Tabalong ini mereka yang biasanya menyadap karetnya pagi hari terpaksa melakukan pekerjaan rutin mereka pada malam hari.

“kalau pagi hari getahnya kurang mas, jadi kami menyiasatinya dengan menyadap pada malam hari” terang Minno kepada korankontras.net.

Kurangnya getah yang dihasilkan kalau disadap pada pagi hari bisa mencapai 50 persen lebih jadi para petani terpaksa menyadap pada malam hari.

Disamping itu dengan harga karet yang masih murah seperti sekarang ini kalau mereka menyadap pada malam hari mereka bisa bekerja lainnya pada siang hari.

“kebanyakan kami menjadi buruh bangunan , atau bekerja apa saja yang penting mendapatkan rezeki yang halal karena kalau mengandalkan dari karet kondisi seperti sekarang ini sangat sulit” imbuhnya.

Tidak sedikit mereka bekerja di luar Desanya sampai ke wilayah selatan Kabupaten Tabalong seperti Kalua, Pugaan untuk menjadi buruh bangunan.

Sekarang ini kalau malam dikebun kebun karet warga terlihat semarak lampu senter yang dipasang dikepala petani untuk penerangan mereka menyadap, karena mereka semua melakukan pada malam hari tidak ada kekuatiran terhadap keamanannya.

“ ya rame seperti pagi hari, biasanya kami pulang kerumah jam 12 sampai jam 2 malam kalau sudah selesai pekerjaan” katanya lagi.

Petani berangkat menyadap biasanya jam sembilan malam ada juga yang berangkat jam sepuluh malam soalnya kalau terlalau cepat datangnya getah yang disadap juga masih belum banyak keluarnya.

Harga Karet Masih Murah

Ibarat kata pepatah sudah jatuh tertimpa tangga itu gambaran petani karet sekarang ini, selain kurangnya latex dari sadapan karena musim kemarau harga karet dipasaranpun tidak kunjung membaik.

Ditingkat tengkulak yang biasa membeli karet petani pada minggu ini berkisar Rp.6.300 per kilogram turun dibandingkan minggu lalu yang masih dikisaran Rp.7.000 perkilogramnya.

Harga karet mencapai Rp.7.500 kalau petani menjual langsung ke pabrik tapi tidak semua petani bisa menjual karetnya ke pabrik mereka biasanya kalau mau menjual ke pabrik mengumpulkan dulu sampai beberapa ton baru bisa mengirim ke pabrik karet.

“harga di pabrik delapan ribu lebih tapi setelah dipotong biasa operasional kita petani bersihnya mendapatkan harga sekitar tujuh ribu lima ratus rupiah”terang minno lagi.

Tapi kebanyakan petani menjual ke para tengkulak biar tidak “ribet” dan cepat dapat uangnya.

Ia berharap pemerintah daerah bisa segera mencarikan solusi untuk meningkatkan harga karet sampai pada harga yang ideal.

“biaya hidup di tempat kita kan cukup tinggi dengan harga karet seperti sekarang ini memang masih terasa beratnya, setidaknya harga bisa sepuluh ribu perkilo lah” harapnya.

Pemda sendiri sudah merencanakan membangunkan pabrik karet mini untuk koperasi-koperasi dan memberikan dana sampai miliaran rupiah tapi semuanya belum bisa terealisasi sehingga rencana meningkatkan harga karet petani samapi sekarang ini belum bisa dilakukan (kts)

Tambahkan Komentar

Klik di sini untuk berkomentar

Kategori