Info CSR

Berita CSR Adaro

Bantuan 5 Minibus Untuk Gerbang Emas

Bantuan 5 Unit MobilBantuan lima unit minibus berkapasitas 13 penumpang senilai Rp 1,7 Milyar lebih, yang diserahkan External Division Head PT Adaro Indonesia, Rizki Dartaman, pada Bupati Tabalong, H Anang Syakhfiani, Selasa (16/6), saat peluncuran program Gerakan Pembangunan Menuju Masyarakat Sejahtera, Bersih, Sehat, Indah, dan Religius (Gerbang Emas Bersinar), bakal melengkapi ketersediaan angkutan publik di Tabalong.Di tahun 2014, Adaro bersama mitra kerja, juga menyerahkan bantuan angkutan kota jenis APV berkapasitas 10 penumpang, senilai Rp 1,6 Milyar. Kini, total sarana angkutan publik bantuan Adaro yang dimiliki Tabalong, menjadi berjumlah 13 unit. Pada kegiatan yang berlangsung di Desa Juai, Tanjung, Tabalong ini, Anang Syakhfiani mengatakan, lima unit minibus tersebut akan dipergunakan untuk angkutan guru dan murid, namun penggunaannya juga bakal mengakomodir keperluan jasa angkutan bagi masyarakat umum.“Saya berharap, kerjasama dan kebersamaan yang terjalin selama ini, antara pemerintah dan Adaro, terus berlanjut, agar kehadiran Adaro juga dirasakan manfaatnya bagi masyarakat Tabalong. Angkutan ini bebas biaya, alias gratis,” ujar Anang.Selain lima unit microbus, Adaro turut berperan dalam upaya mewujudkan desa mandiri dengan sokongan dana CSR senilai Rp 700 Juta, di tiga desa, Desa Harus, Desa Padang Panjang, dan Masingai 2.Menurut Rizki Dartaman, kendati Adaro masih dihadapkan pada kondisi bisnis yang belum membaik, komitmen untuk mensinergikan program pemberdayaan masyarakat bersama pemerintah, akan terus berjalan. “Ini tentunya selaras dengantujuan kita, yang menginginkan hadirnya masyarakat yang sejahtera dan mandiri paska tambang. Untuk mewujudkan hal itu, tentu diperlukan proses yang tidak mudah, sehingga implementasi program CSR akan menyasar pada program yang sifatnya berkesinambungan,” ujarnya.   Saat ini, kata Rizki, kebutuhan masyarakat yang menjadi dasar program CSR Adaro, terus berupaya diselaraskan dengan kebijakan pemerintah, sehingga pelaksanaannya bisa saling melengkapi.Kegiatan yang juga dihadiri Wakil Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan ini, sejumlah bantuan berupa beras miskin, dana permodalan kelompok tani, hingga bibit tanaman lokal, turut dibagikan.Rencananya, peluncuran program Gerbang Emas Bersinar, pada tahap awal akan diterapkan di 12 desa di wilayah Tabalong. Jika sesuai dengan harapan, pada 2016 mendatang, pelaksanaan program tersebut akan diperluas hingga ke seluruh desa di Tabalong. (Adv)

 

Panen Perdana Lele, Gema Desa Santri

panen lele

Panen perdana budidaya ikan lele pada kolam darat berbahan terpal, di Pesantren Al Madaniah, Desa Nalui, Kecamatan Jaro, Tabalong, pada Rabu (20/5), yang menghasilkan 200 kilogram lele atau setara Rp 3 juta itu, menjadi pijakan menuju jalan sukses berikutnya.

Menurut Ketua Koperasi Ponpes Al Madaniyah yang juga pelaksana program budidaya, Nurhalis, program tersebut dipilih berdasarkan potensi yang dimiliki pesantren. Ketersediaan sumber air serta lahan, sangat mendukung berlangsungnya budidaya perikanan.

Selain mampu menambah keterampilan santri, ujar Nurhalis, program ini turut memberi dampak positif terhadap kemandirian ekonomi pesantren. “Kendati harga ikan di pasaran saat ini mengalami penurunan, setidaknya kami bisa memenuhi nutrisi untuk makan para santri. Setiap harinya, kami memerlukan setidaknya 20 kilogram ikan,” ujarnya.

Dengan modal awal sebesar Rp 50 juta, yang didapat dari dana CSR Adaro, Ponpes Al Madaniyah mencoba mengembangkan budidaya lele dengan menabur 25,000 bibit di atas 10 kolam terpal.

Setelah tiga bulan, upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Dari sepuluh kolam berukuran 4×6 meter itu, sudah menghasilkan 2 kuintal ikan lele siap panen. “Pangsa pasarnya pun cukup menjanjikan, saat mau mulai budidaya ini, sudah ada yang menawarkan untuk bisa memasok secara rutin setiap minggunya,” kata Nurhalis.

Menurut pengumpul sekaligus pembudidaya ikan lele, Panut, sebanyak apapun ikan lele yang dihasilkan, pasti bisa diserap pasar, bahkan permintaan skala besar sedianya terus berdatangan.

Namun, ujar Panut, agar hasil panen bisa berkelanjutan, perlu ketekunan dalam mengawal budidaya ikan lele. “Kendala terbesar yang dihadapi peternak saat ini, adalah jamur yang menyerang ikan lele,” ujar pria yang sudah empat tahun ini menggeluti budidaya ikan lele itu.

Program Gema Desa Santri CSR PT Adaro Indonesia bersama mitra kerja yang digulirkan sejak 2009 lalu ini, berupaya mendorong pengembangan potensi ekonomi pesantren dengan harapan para santri dan santriwatinya kelak, bisa menjadi pioneer yang mampu menggerakkan masyarakat di lingkungannya.

Menurut CSR Department Head Adaro, Idham Kurniawan, pesantren menjadi pilihan untuk pengembangan program CSR Adaro, karena kultur masyarakat Kalsel yang kuat dengan nuansa keagamaan.

Pesantren sebagai salah satu lembaga keagamaan yang banyak menghasilkan ulama, diharapkan juga mampu menjadi wadah belajar masyarakat disekitarnya untuk membangun ketahanan ekonominya.

Saat ini, ujar Idham, Adaro melalui Gema Desa Santri sudah menggandeng enam pesantren yang tersebar di wilayah Tabalong dan Balangan. “Tentu kita berharap, selepas para santri itu menamatkan pendidikannya di pesantren dan terjun ke masyarakat, mereka bisa mentransfer keterampilannya pada masyarakat di sekitar,” ujarnya. (Advertorial)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *