Hijau

Nursery Maburai Sediakan Bibit Untuk Penghijauan

Bibit Halaban dan Sungkai Digandrungi Perusahaan

TANJUNG, korankontras.net – menggerakkan potensi desa dengan mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) lewat kelompok usaha terus dilakukan Desa Maburai Kecamatan Murung Pudak.

Di bawah bendera BUMDes, kelompok usaha pembibitan tanaman perindang ” Nursery” kini terus berkembang.

Sejak didirikan kelompok Nursery bersama pemuda Karang Taruna desa Maburai sekitar tahun 2018, kelompok ini telah mempekerjakan 3 orang tenaga khusus dan 7 orang warga desa Maburai.

“Tenaga khusus di gaji sekitar Rp 3,8 juta per bulan sedang pendapatan 7 pekerja lainnya sampai Rp 3 jutaan” terang ketua Kolompok, Hardi pada awak korankontras.net baru-baru ini di kantor desa Maburai

Hardi menuturkan bahwa awalnya usaha pembibitan ini juga tertatih-tatih menapaki perjalanannya.

“Awalnya kami belajar menyemai bibit secara otodidak, ribuan bibit di polybag mati, setelah beberapa kali mencoba dan mendapat masukan dari sana-sini, kami mulai memahami tehnik dan penyemaian bibit, apalagi sudah ada tenaga khusus yang digaji untuk menanganinya sehingga problem ini dapat diatasi” tuturnya.

Ada 10 jenis macam bibit tanaman yang kelompok Nursery sediakan, yaitu Halaban, Sungkai, Mahoni, Trambesi, Johar, Ekaliptus, Sengon Laut, Sengon Buto, Ketapang dan Spatudea.

“Bibit Halaban dan Sungkai masih diambil dari alam sedang yang lainnya beli, dua jenis tanaman ini yang sedang digandrungi perusahaan untuk tanaman reklamasi” ungkapnya.

Sekarang Nursery sudah mendapat kontrak pengadaan bibit dari dua perusahaan pelaksana reklamasi di Tabalong.

 “Ada dua perusahaan yang sudah tanda tangan kerjasama pengadaan bibit, satu perusahaan sekali ambil bibit minimal 10.000 pohon” bebernya.

Beberapa pihak lain juga pernah memesan bibit pada kelompoknya.

“Dari Paringin ada yang pernah memesan 50.000 pohon dan dari Tabalong sendiri ada juga pernah memesan 50.000 pohon bibit” ucapnya.

Hardi mengatakan sudah lebih dari satu juta pohon bibit yang berhasil mereka jual.

Keuntungan yang diperoleh sesuai dengan hasil musyawarah dibagi dengan persentase tertentu.

“Tanah kompos untuk menanam bibit di polybag memanfaatkan hasil olahan TPS – 3R dengan sistem bagi hasil dan memakai bendera BUMDes, perhitungannya 3% dari keuntungan bersih untuk TPS- 3R, 7% untuk BUMDes, pajak sudah ditanggung oleh Nursery” jelasnya.

Sebagian keuntungan yang di dapat digunakan untuk membayar gaji petugas dan pekerja.

“Bibit Halaban yang dicari dari alam oleh pekerja di beli seharga Rp 400 dan upah  ngisi polybag Rp 150, sedang dalam sekali mencari bibit pekerja bisa mendapat penghasilan sampai Rp 500 ribu” terangnya.

Tak heran pendapatan mereka dari hasil mencari bibit dan mengisi tanah ke polybag dalam satu bulannya mencapai Rp 3 juta.

Saat ditanya apakah akan menerima bibit Halaban atau Sungkai dari orang luar desa, Hardi menjawab bahwa warganya yang ditugaskan masih mampu memenuhi kebutuhan bibit pesanan.

“Untuk saat ini kita masih mampu  memenuhi kebutuhan bibit, entah nanti diwaktu mendatang” imbuhnya.

Hardi berharap agar pihak swasta lainya atau pemerintah daerah Tabalong yang ingin membeli bibit untuk Reboisasi untuk memanfaatkan jasa kelompok Nursery.

“Usaha kami adalah usaha kelompok yang memberdayakan warga desa, bukan usaha pribadi, dengan membeli bibit di Nursery artinya pian-pian sudah membantu usaha kelompok warga desa Maburai agar bisa terus berkembang” pungkasnya.

Hingga pertengahan Juli ini, kelompok Nursery sudah menyiapkan sekitar 200.000 pohon bibit berbagai jenis siap jual.(Boel)

Kategori



You cannot copy content of this page