Opini Anda

Persoalan Sistem Drainase di Kawasan Kota Tabalong

Oleh : Annida Humaira, Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang

Banjir merupakan salah satu masalah yang kerap kali dihadapi oleh suatu daerah, khususnya pada musim hujan. Bahkan rasanya hampir seluruh kota di Indonesia masih menghadapi permasalahan ini yang hampir setiap tahun selalu terulang. Tak terkecuali di Kabupaten Tabalong, hampir setiap tahun di kawasan tertentu Kabupaten Tabalong selalu menghadapi bencana banjir. Walau permasalahan ini merupakan permasalahan tahunan yang selalu berulang, kenyataannya masih belum dapat terselesaikan dan bertambah kompleks. Bahkan pada bencana banjir yang terjadi pada tahun 2020 lalu merupakan banjir terparah selama 20 tahun terakhir.

Berbagai macam penyebab banjir yang ada di kabupaten Tabalong antara lain adanya curah hujan yang tinggi dalam waktu yang cukup lama, sehingga air hujan memenuhi sungai-sungai yang ada serta menggenangi badan jalan ketika minimnya daerah resapan. Selain itu, masih banyaknya masyarakat yang membuang sampah sembarangan juga menjadi penyebab adanya banjir. Meski kebiasaan membuang sampah sembarang ini terlihat sepele, namun kenyataannya membawa pengaruh yang besar yaitu mengakibatkan penumpukan sampah di beberapa saluran air sehingga timbul genangan air. Adanya pembakaran hutan yang diperuntukkan untuk pembukaan lahan juga menjadi penyebab terjadinya banjir. Yang seharusnya hutan tersebut menjadi media resapan air, namun dengan adanya pembakaran hutan tersebut air hujan tidak dapat terserap dengan baik. Terakhir, kurang terkelolanya pembangunan pada pinggiran sungai serta pesatnya perkembangan kabupaten Tabalong yang mengakibatkan semakin sedikit tata guna lahan untuk endapan air. Disamping penyebab-penyebab tersebut, terdapat satu penyebab yang mungkin kurang diperhatikan oleh beberapa pihak, yaitu persoalan pengelolaan sistem drainase yang ada di kabupaten Tabalong.

Sistem drainase merupakan salah satu komponen infrastruktur yang tidak terpisahkan dalam rancangan perencanaan pembangunan dan tata kota suatu daerah. Berbeda halnya dengan daerah pedesaan yang sistem drainasenya telah terbentuk secara alamiah sebagai bagian dari siklus hidrologi alam. Yang mana drainase tersebut dapat berubah secara konstan menyesuaikan keadaan fisik lingkungan sekitar. Sedangkan pada daerah perkotaan, drainase harus dibuat sedemikian rupa untuk mengalirkan air limpahan pasca hujan ataupun air buangan yang dapat mengganggu pengguna jalan, agar dapat mencegah terjadinya genangan yang berlebihan di suatu titik tertentu, menjaga serta menurunkan permukaan air. Selain berfungsi untuk mencegah terjadinya genangan drainase, drainase yang baik juga dapat menjadikan suatu perkotaan lebih rapi, bersih, nyaman, dan sehat. Oleh karena drainase suatu daerah merupakan komponen penting dalam tata ruang maupun infrastruktur, maka perencanaan dan pembangunan sistem drainase ini harus dilakukan semaksimal mungkin. Mengingat fungsinya yang banyak serta agar keberadaannya tidak meimbulkan “efek samping” yang akan mengganggu aktivitas masyarakat.

Tak terkecuali perencanaan dan pembangunan sistem drainase yang ada di kabupaten Tabalong. Perencanaan dan pembangunan sistem drainase telah masuk pada Masterplan Drainase Kabupaten Tabalong tahun 2014 silam. Hasilnya penyusunan Masterplan Drainase tersebut telah dilaksanakan. Namun setelah sekian tahun dari pelaksanaan Masterplan tersebut nyatanya pembangunan sistem drainase ini tidak sesuai dengan kondisi yang ada saat ini. Pasalnya perkembangan kawasan kabupaten Tabalong semakin meningkat dan cukup pesat. Seiring dengan laju pertumbuhan penduduk maka perkembangan pemukiman dan perumahan serta infrastruktur perekonomian juga mengalami peningkatan. Selain itu, dalam penanganan dan pengelolaan sistem drainase ini seharusnya berpatokan dengan rincian teknis pembangunan (detail engineering desain), yang mana perlu memperhatikan kedalaman dan kemiringan dari drainase tersebut serta arah aliran air agar dapat sesuai dengan kapasitas beban air. Diantaranya saja pada drainase yang ada di kawasan Mesjid Shiratal Mustaqim Tanjung. Drainase tidak dapat menampung kapasitas air, sehingga saat hujan dengan curah yang tinggi air pada drainase meluber hingga menggenang di jalan. Demikian juga yang terjadi pada kawasan Jalan Basuki Rahmat Kel. Agung, akibat dari genangan air tersebut beberapa titik jalan di Jalan Basuki Rahmat Kel. Agung menjadi rusak (berlubang). Terakhir, pemeliharaan secara rutin untuk sistem drainase juga merupakan hal penting, terutama menjelang musim hujan seperti saat ini. Pemeliharaan rutin dapat dilakukan dengan merawat dan memperbaiki kerusakan ringan yang terjadi pada sistem drainase tersebut. Seperti membersihkan sampah yang tersangkut pada lubang saluran drainase, mengangkut sampah yang hanyut dan mengendap serta mengeruk sedimen/ endapan lumpur atau batuan krikil pada sistem drainase tersebut. Agar ketika musim hujan datang sistem drainase tersebut dapat berfungsi lebih maksimal.

Oleh karena faktor-faktor diataslah persoalan pengelolaan sistem drainase ini seharusnya mendapat perhatian lebih oleh beberapa pihak, tak hanya dari pemerintah daerah tetapi juga masyarakat sekitar. Agar sistem drainase yang ada dapat berfungsi dengan maksimal dan tidak menimbulkan permasalahan baru. Untuk itu marilah kita sebagai warga Tabalong berpartisipasi secara bijak dalam pemeliharaan infrastruktur di lingkungan kita untuk kenyamanan bersama.***

Kategori

Cinta Produk Indonesia




You cannot copy content of this page