Tokoh

Anshar, Sosok Tangguh Pejuang Kesehatan

Sosoknya masih muda, dengan langkah mantap ia berjalan menuju pelataran Graha Sakata yang juga menjadi tempat parkir menjumpai rekan seprofesinya yang sedang berkumpul, bersiap untuk meninggalkan kantor wakil rakyat.

sesaat setelah selesai menyampaikan aspirasi mereka pada komisi satu DPRD kabupaten Tabalong di Graha Sakata, puluhan orang beranjak meninggalkan gedung pertemuan. Diantaranya tampak seorang pemuda dengan pakaian putih-putih khas tenaga kesehatan sedang berjalan menjumpai kawan-kawannya yang sudah berada di tempat parkir kendaraan.

Setelah berkenalan, pria lulusan Stikes Muhammadiyah Banjarmasin yang sekarang namanya berganti menjadi universitas Muhammadiayah Banjarmasin ini diajak ngobrol oleh awak Koran Kontras ke tempat yang lebih teduh di sekitar parkir tak jauh dari teman-temannya yang sepertinya mau menunggunya.

Sambil duduk di anak tangga bangunan utama gedung DPRD, pria berusia 30 tahun ini bercerita tentang pekerjaannya di dunia kesehatan. Anshar namanya.

Ia diwawancarai oleh banyak media baik lokal maupun regional wilayah kalimantan sewaktu acara penyampaian aspirasi sudah selesai. “mereka mungkin tertarik karena daerah tugas saya yang berada di daerah terpencil dan pengalaman saya menjadi tenaga kerja sukarela (TKS) kesehatan yang hanya mendapat insentif ala kadarnya” ujarnya ramah.

Anshar bercerita bahwa sebelum tugas di Panaan ia sebelumnya menjadi TKS kesehatan di puskesmas kelua, kemudian pindah ke puskesmas Muara Uya dan kemudian bertugas di unit kesehatan Panaan sampai sekarang.

Pria kelahiran kelua dan  sudah berkeluarga ini sekarang tinggal di desa Teratau, desa tempat istrinya tinggal. Ia menceritakan kalau saat ini bersama anak istrinya tinggal di rumah kayu  berukuran 4 m x 7 m yang dibangun dari papan bekas bangunan rumah nenekny dari pihak istri. Terkadang ujarnya lagi saat hujan disertai angin deras bagian atap atau dinding masuk rembesan air.

Jarak yang ditempuhnya dari rumah ke panaan sekitar 100 an km dengan waktu tempuh sekitar 4 sampai 5 jam.”itu kalau musim panas dan kondisi jalan cukup bagus”terangnya. Kalau sudah memasuki musim penghujan, waktu yang dibutuhkan lebih dari itu sambungnya lagi. Sambil berbincang Anshar memperlihatkan foto-foto kondisi jalan yang ditempuhnya lewat telepon genggam yang dimilikinya.

Kondisinya terlihat jelas, parah, bahkan sangat parah. Jalannya yang penuh lumpur dan genangan air, tampak jalan yang bisa dilewati hanya berupa jalur sempit diantara kubangan lumpur.

Jatuh dari kendaraan sudah tidak terhitung lagi, bahkan sampai saat ini kondisi tangannya masih belum pulih benar akibat jatuh berkendaraan saat akan ke Panaan terangnya sambil menunjukkan cedera dalam pada salah satu pergelangan tangannya.

“sudah cukup mendingan sekarang”imbuhnya. Ia juga bercerita bahwa salah seorang rekan perempuan TKS nya dulu patah tangan akibat jatuh dari kendaraan saat akan naik ke Panaan.

Di Panaan Anshar tinggal dirumah dinas yang disediakan pemda bersama satu orang dokter kontrak, dua perawat dan satu bidan. Kegiatan pelayanan kesehatan yang mereka berikan juga sampai ke Dambung maupun Hegar Manah.

Untuk menghindari kejenuhan dan bisa berkumpul dengan keluarga, secara berkala ia dan rekan lainnya bergiliran turun gunung, namun pos kesehatan tidak boleh kosong dan harus ada yang bertugas.

Pelayanan yang diberikan tidak ada batasan waktu, sepanjang masyarakat membutuhkan jasa mereka, maka mereka harus siap, tak ada istilah hari libur. ”Ibaratnya kita bekerja 24 jam” ujarnya sambil tersenyum hambar.

Bahkan ujarnya lagi, tak jarang mereka memberikan pengobatan gratis pada warga yang tidak mampu. “masih banyak warga kita di desa terlebih lagi di daerah terpencil yang tidak ikut jaminan kesehatan yang disediakan oleh pemerintah”ungkapnya lagi.

Bukan hanya bersama rekannya, secara pribadipun tak jarang ia menggratiskan biaya pengobatan bagi kalangan tak mampu bahkan  sampai menggratiskan biaya sunatan warga kurang mampu.

Saat ditanya bagaimana ia menutupi biaya pengobatan tersebut, pria satu anak ini menjawab kalau itu disisihkan dari uang gaji yang diterimanya dan hasil kerja sampingan saat turun gunung.

“Alhamdulillah mas saya sekarang diterima kerja pada program kesehatan (promkes) pada dinas kesehatan ” katanya pada koran kontras. Walaupun gajinya masih dibawah UMR, Anshar tetap bersyukur dan menyisihkan sedikit uang dari penghasilannya dan hasil dan dari menyadap karet.

Saat pulang ke rumah pun ia manfaatkan dengan ikut menyadap karet milik mertuanya. “lumayan untuk tambah-tambah uang belanja keluarga” katanya menambahkan.

Anshar mengatakan kalau dirinya juga bukan berasal dari kalangan “orang berada” jadi dia tahu dan mengerti bagaimana keadaan orang yang tidak mampukala ditimpa kesusahan. Orang tuanya hanya petani, untuk kuliah saja dulu orang tuanya bersusah payah membiayainya bahkan sampai menjual sawah katanya sedih mengingat perjuangannya saat mengejar mimpi-mimpinya.

sampai saat ini, Anshar tidak menyesali keputusan yang sudah diambilnya. “saya bersyukur dan ikhlas menjalaninya” imbuhnya dengan senyum santai. Ia tetap akan menekuni apa yang jadi pekerjaan dan tetap akan membantu warga yang membutuhkan. Anshar juga berkata kalau tak akan menyerah dengan keadaan ini, apalagi keluarga juga mendukung apa yang dilakukannya.

“ulun  ingin mengabdi dan membantu warga yang membutuhkan tenaga ulun”ujarnya mantap.

Di sisi lain Anshar juga berharap agar ada perhatian dan uluran tangan dari pemerintah daerah. Saat ini banyak TKS kesehatan yang belum memiliki jaminan kesehatan dan kalaupun ada hanya sebagian kecil saja itupun mereka membayarnya secara pribadi. Pada hal, mereka juga bersentuhan langsung dengan pasien hingga rentan untuk tertular.

Ia juga berharap agar kesejahteraan mereka bisa ditingkatkan, khususnya TKS kesehatan. Anshar menyadari memang tidak ada anggaran khusus mengenai TKS yang berada di kecamatan, hanya tergantung dari kebijakan kepala Puskesmas saja, sehingga tidak ada nominal pasti yang diterima dan jumlahnya pun bisa dikatakan sangat minim. Ia tetap berharap agar kedepannya keadaan ini bisa berubah menjadi lebih baik.

Walaupun tidak lama, – di banding  rekan TKS kesehatan lainnya yang pengabdiannya sampai belasan tahun- Anshar juga pernah mengalami dan menjalaninya sehingga ia tahu betul apa yang dirasakan dan jadi keinginan rekan-rekannya. (boel)

Kategori



You cannot copy content of this page