Desa Membangun Banua

Desa Batang Banyu, Desa Penghasil “nyiru”

Pasarannya Hingga Kaltim dan Kalteng

Bagi suku Banjar, Nyiru (Tampah –red) hampir dimiliki setiap rumah tangga khususnya di kalangan masyarakat pedesaan. Anyaman dari batang bambu ini dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Mungkin tak banyak orang tahu,di kabupaten Tabalong desa Batang Banyu merupakan produsen utama dari kerajinan anyaman ini.

Kerajinan anyaman ini sudah warga tekuni sejak tahun 2000 an. Menurut Haderi, kepala desa Batang Banyu keterampilan ini di bawa oleh warga yang berasal dari daerah Pihaung, yakni sebuah desa yang wilayah administrasinya termasuk dalam wilayah Hulu Sungai Utara (HSU) dan berada persis bersebelahan dengan desa Batang Banyu.

“ masuknya warga dari desa Pihaung ke Batang banyu lewat proses perkawinan” terang Haderi.

Setelah menetap  mereka juga membuat usaha anyaman Nyiru sebagai tambahan penghasilan. Ternyata kegiatan ini menarik perhatian warga setempat dan mulai di ikuti, lama kelamaan kerajinan ini terus berkembang hingga sekarang.

“saat ini hampir 90 % warga Batang banyu menjadikan anyaman Nyiru sebagai usaha sampingan” imbuhnya.

Dikatakan usaha sampingan karena sumber penghidupan utama warga adalah dari hasil persawahan dan membuat anyaman Nyiru di sela waktu saja dan lebih bisa optimal saat panen padi selesai.

Rata-rata dalam satu minggu satu orang warga bisa menghasilkan 2 Kodi anyaman berbahan bambu ini, satu Kodi berisi 20 buah Nyiru. Harga jualnya pun bervariasi tergantung ukuran, pengrajin menjualnya mulai dari harga Rp 10.000 – Rp 11.000 untuk ukuran sedang dan sampai Rp 20.000 untuk ukuran besar. Bahkan, anyaman yang belum berbentuk Nyiru pun sudah laku di jual.

“satu buah anyaman di beli pengepul seharga Rp 4.000”ujarnya lagi. dalam satu minggu warga bisa memperoleh pendapatan berkisar Rp 400.000.

Kerajianan ini ditekuni warga baik laki-laki ataupun perempuan. Biasanya terang Haderi lagi warga mengerjakannya secara bertahap, tidak langsung menjadi sebuah Nyiru karena hal itu dirasa lebih efektif.

Tahap pembuatan dimulai setelah batang bambu di potong dan diiris tipis membentuk sebuah bilah kecil dengan ukuran tertentu. Bilah-bilah kecil tersebut dirangkai dengan teknik anyaman tertentu hingga membentuk sebuah bidang datar.

Selanjutnya warga membuat bingkai (batang rotan yang di bentuk melingkar pada bagian tepi nyiru –red). Tahapan terakhir adalah menyirat, yakni menyatukan atau mengikat anyaman dengan bingkai, gunanya sebagai tempat memegang nyiru.

Di perkirakan dalam satu bulan warga Batang Banyu menghasilkan lebih dari 1.000 buah nyiru. Pemasarannya pun tidak hanya di wilayah kabupaten Tabalong saja, namun merambah daerah lainnya baik di Kalsel, Kalteng maupun Kaltim. Namun, baik pengepul kecil maupun besar malah berasal dari Pihaung HSU, termasuk pemasok rotan untuk bingkai, pada hal rotan tersebut justru di beli mereka di wilayah kabupaten Tabalong.

Untuk mencukupi kebutuhan bahan baku, warga membeli batang bambu sampai ke daerah Kelua dan Pamarangan. Satu batang bambu di beli seharga Rp 1.000 – Rp 2.000. biasanya batang bambu tersebut sudah di potong dan di iris kecil sebelum di bawa pulang.  Sedang jenis rotan yang di pakai untuk bingkai adalah Walatung, di beli di Pahaung seharga Rp 1.200 per batang berukuran kurang dari 2 meter.

Nyiru, meskipun digempur dengan produk olahan dari bahan plastik namun keberadaan nyiru dari bahan alam masih tinggi peminatnya, bahkan nyiru kini menjadi ciri khas produk dari desa Batang Banyu tinggal bagaimana pemerintah diatasnya memperhatikan para pengusaha nyiru tersebut agar lebih meningkat lagi kesejahteraannya (boel)

Kategori