Fokus Kita

mengintip sentral warung “jablay” tabalong (2)

ilustrasi ( gambar : poskotanews.com)
ilustrasi ( gambar : poskotanews.com)

Keberadaan mereka di gunung batu tidak diketahui persis tepatnya. Menurut keterangan warga sekitar, kita sebut saja Julak (60 th) mengatakan warung tersebut sudah ada sejak akhir tahun 70-an atau awal 80-an. Dulu warungnya masih sedikit, letaknya pun cukup berjauhan katanya mulai bercerita.

Mungkin pamornya saat itu masih kalah dengan Tepian, ujarnya berasumsi. Dari tahun ketahun malah jumlah warung dan perempuannya makin bertambah banyak tambah kakek yang masih terlihat energik .

Dan kini lebih ramai di gunung batu bila dibandingkan dengan di tepian, jalan untuk masuk ke tepian yang rusak mungkin menjadi faktor orang-orang enggan masuk kesana berbeda dengan gunung batu yang berada persis di pinggir jalan poros dan beraspal hotmix sehingga kini gunung batu lebih populer dibandingkan dengan tepian.

Rasa malu warga untuk singgah di tempat seperti itu juga mulai berangsur hilang, mereka terlihat santai saja duduk diwarung yang bisa dengan jelas dilihat pengguna jalan.

Bahari, asa supan tu pang mun katahuan urang di kampung mun manjablay ka gunung batu atawa ka tapian, wahini maka pina santai-santai haja buhannya mamandir di kampung sambil minuman di warung. wan kada supan mun nya katahuan urang. Tuha anum tu yang kaya ka itu ujar sidin pulang (Dulu malu kalau ketahuan sama orang di kampung kalau main ke gunung Batu atau Tepian tapi sekarang malah biasa-biasa saja mereka bercerita di kampungnya sambil nyantai di warung , bahkan tua dan juda sama saja ,red ).

Waktu ditanya oleh korankontras OL, kenapa harus gunung batu ?, kenapa kada ke tepian ? sebut saja Tangahnya (40 th) memberikan alasan seperti halnya Julak, karena dekat lokasinya kalau mau naik sepeda juga bisa. Di pinggir jalan dan jalannya bagus juga lebih aman kalau pergi sendiri dari pada ke tepian.

Dari info yang berhsil dikumpulkan korankontras wanita yang menjaga warung tersebut rat-rata berusia muda bahkan ada yang berusia belasan tahun saja.

Menurut Utuh (33 th) bukan nama sebenarnya, para wanita jablay itu berusia muda sampai yang sudah berumur,dari belasan tahun sampai empat puluhan.

Bahkan untuk barang afkir, Ia mengistilahkan wanita yang sudah berusia empat puluhan tahun, masih banyak juga keberadaaanya di Gunung Batu.

Kebanyakan mereka yang sudah tua membuat warung yang letaknya menjorok kedalam dan mereka memiliki pelanggan yang rata-rata juga berusia tua.

Ironisnya lagi ternyata mereka bukan saja sekedar menjaga warung makanan ringan dan minuman yang tersaji dimeja tapi dari info yang didapat sebagian mereka bisa di booking.

Di tanya masalah tarif sekali kencan, tergantung duitnya saja lagi ujar Utuh melanjutkan cerita.

Istilah orang sekarang,ada barang ada harga. Makin muda dan cantik tentunya lebih mahal Angkanya dari lebih dari seratus ribu rupiah sampai tiga empat ratus lah katanya lagi. Ya itu tadi,tergantung barangnya katanya lagi. kalau sudah berlangganan,ada diskon harga,malah bayar separo atau ngutang pun kada masalah ujarnya lagi sambil senyum dikulum.

Ah,kalau seperti ini, ini bukan lagi warung remang-remang, ini bukan terselubung lagi. Nampak terang benderang bak di siang hari.

Lalu, apa sebaiknya yang harus di lakukan Pemerintah Daerah ?? Apakah menunggu sikap dari warga masyarakat ? Atau dibiarkan saja seperti pemerintahan yang sudah-sudah ? (tim)

Tambahkan Komentar

Klik di sini untuk berkomentar

Kategori