Desa Membangun Banua

Udin Madihin, Seniman Madihin Dari Desa Tamiyang

TANJUNG, KoranKontras.net- Bagi “urang Banjar”, kesenian Madihin  tentu tidak asing lagi. Madihin merupakan salah satu seni dan pertunjukan yang menjadi khasanah kebudayaan orang Banjar di Kalimantan.

Bisa juga dikatakan Madihin adalah seni hiburan dalam keterampilan merangkai kata diiringi alat musik babun (sejenis gendang-red).

Selain berisi nasehat sajak yang dirangkai juga berupa banyolan, humor dan basasambatan inilah yang menjadi daya  tarik madihin.

Salah seorang Pamadihinan (sebutan bagi orang yang melakoni seni madihin-red) yang sudah dikenal luas di Bumi Saraba Kawa dan sudah sering diundang mengisi acara diluar daerah adalah Bahrudin alias “Udin Madihin” dari desa Tamiyang kecamatan Tanta. 

Pria yang juga merupakan sekretaris desa Tamiyang ini menuturkan keterampilan madihin diperoleh secara turun-temurun dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Menurut pengakuan Udin, sapaan akrabnya, keterampilan penguasaan seni madihin dalam keluarganya sudah berlangsung puluhan tahun.

“sejak jaman datuk hingga turun ke ulun, setiap generasi keluarga kami ada yang bisa madihin” tuturnya.

Pria kelahiran tahun 1977 menceritakan bahwa Ia mulai tampil bermain madihin sejak tahun 2001. Bermula saat orang tuanya  meninggal, saudara laki-lakinya meminta untuk menemaninya tampil sebagai partner menggantikan posisi ayahnya.

 ”awalnya masih grogi karena tidak biasa tampil didepan banyak orang, penguasaan terhadap olah kata madihin juga masih minim” ujarnya  sambil tersenyum mengenang saat-saat awal terjun di dunia pamadihinan.

Seiring  perjalanan  waktu, Udin madihin makin dikenal luas oleh masyarakat, bukan hanya di Tanjung, namun juga hingga luar daerah. Tidak hanya tampil mengisi acara perkawinan atau hajatan masyarakat saja, ia juga kerap tampil mengisi acara resmi pemerintahan di kabupaten.

Tidak hanya diundang mengisi acara di wilayah Tabalong, Banjarmasin  ataupun Kaltim saja, Ayah  tiga anak ini juga sudah melanglang buana hingga ke Medan, Palembang dan Manado. Bahkan ujarnya lagi, dirinya pun pernah “dipakai” untuk mengisi acara kampanye.

“kalau ngisi acara dipemerintahan bisa tampil sendiri atau berdua saja, namun kalau mau  lebih ramai  harus empat orang karena bisa saling lempar candaan atau basasambatan”terangnya.

Ia pun mengucap syukur karena dalam satu bulan selalu ada saja masyarakat yang mengundang dan menyewa jasanya untuk menghibur orang.

“dalam satu bulan sedikitnya tiga kali dipakai orang” ujarnya sambil tersenyum senang.

Ditanya masalah tarif sekali “manggung”, dijawabnya pula sambil tersenyum lebar.

“harganya murah-meriah saja, tidak mahal, tergantung jarak tempuh ke lokasi acara” ungkapnya.

Untuk wilayah seputaran Tanjung, biasanya sekali Tampil ia dibayar Rp 1,2 juta dan saat tampil di Grogot (Kaltim) dirinya di bayar Rp 2,6 juta.

“saya tidak tampil sendiri itu,tapi bersama rekan-rekan dan biaya tersebut sudah termasuk ongkos transportasi” bebernya. 

Biasanya, setiap kali diundang untuk mengisi sebuah acara, Ia akan bertanya  jenis acara yang diadakan.

“untuk persiapan merangkai kata agar sesuai dengan tema acara” pungkasnya. (Boel).

Kategori



You cannot copy content of this page